Bismillahirrahmaanirraahiim…
Malam
ini, tepat pukul sepuluh lewat satu menit, jemariku terseret kerinduan kepada
sosok-sosok menggemaskan di sebuah surau disana. Kerinduan yang hadir karena
jarak ini memaksa kami untuk berpisah; sedang hati tak ikut goyah.
Banyak
yang ingin kusampaikan. Tapi sepuluh jari tanganku memegang kendali menuliskan
apa yang hati pinta; tentang mereka.
Mataku
tak hentinya menatap pose termanis mereka dilayar monitor. Sambil membayangkan
suara-suara mereka yang seolah kembali menyambutku dengan hangatnya disetiap
sore.
Sentuhan
tangan mereka, hangatnya kening mereka yang selalu beradu dengan punggung
tanganku, semuanya menari diatas kepalaku, sambil menyaksikan toots keyboard ini tertekan dan muncul
kembali kepermukaan.
Aku
masih ingat, pertama kali saat aku sampai di surau itu. Tempatnya jauh dari
keramaian dunia anak-anak zaman sekarang. Menepi disebuah tempat dipinggir
jalan, dibawah menara menjulang. Senyum mereka, timbul dari balik pintu satu
persatu.
Aku
yang pada saat itu ibarat orang asing yang sedang berupaya mengakrabkan diri
dengan mereka, merasa sedikit malu saat senyuman itu satu dua terlempar
menyambutku. Tangan mereka satu persatu terjulur menyambut tangan ini. Akupun
bisa merasakan, sepertinya aku mulai bisa memasuki dunia mereka. Aku suka
anak-anak, dan semoga merekapun menyukaiku.
Empat
rakaat sudah kutunaikan atas Rabbku, kini giliranku menyapa mereka. Sekadar
ingin tahu nama dari setiap pemilik kerudung berwajah manis yang malu-malu,
atau mereka yang saat itu seolah terheran menatapku dibawah peci hitamnya. Aku
suka tatapan mereka.
Kuawali
lisan ini menyapa mereka dengan salam. Sambil memutarkan bola mataku mengitari
lingkaran yang saat itu mengelilingiku.
“Assalamu’alaykum
warahmatullah wabarakatuh…”
Perasaanku
mulai gugup, padahal keseharianku bersama anak-anak. Belum, ini belum mulai.
Balasan
salam dari mereka membakar semangatku, sepertinya iya. Bukan saatnya aku untuk
bergugup-gugupanan, membatasi lisan ini untuk menyambut hangat mereka. Akupun
mulai memperkenalkan diri, yang sejujurnya.
Banyak
pertanyaan yang terlontar dari mereka, hanya saja semua itu tertahan
ditenggorokan mereka. Aku pernah merasakan, tidak mudah untuk bisa cepat akrab
dengan orang baru. Kukeluarkan strategi baru untuk bisa memancing mereka untuk
mengutarakannya, dengan beberapa jeruk.
Kukeluarkan
jeruk-jeruk itu dari ranselku yang sengaja sudah kupersiapakan sebelum aku
sampai disini, di surau ini. Enam buah jeruk manis. Rupanya, tak sia-sia kubawa
mereka. Akhirnya, pandangan mereka teralihkan oleh jeruk-jeruk yang ada
ditanganku. Saatnya aku beraksi. “Ada yang mau tanya ngga? Nanti Teteh kasih jeruk untuk yang berani
bertanya.”
Berhasil.
Beberapa pertanyaan mendarat dilisan-lisan mereka. Meskipun bukan pertanyaan
yang sulit untuk kujawab tapi ini bermanfaat untuk melatih keberanian mereka.
Kini, enam buah jeruk berganti pemilik.
Ada
yang tidak boleh terlewatkan. Tugasku disana adalah membantu hafalan mereka,
anak-anak manis usia PAUD sampai yang paling besar kelas tiga SD. Selain itu,
akupun diamanahi untuk memperbaiki tahsin mereka. Menurutku ini tidak terlalu
sulit, karena ini kemampuanku. Kesehariankupun dengan hal-hal seperti itu.
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Khayru
kum man ta’allamal qur’an wa ‘allamahu.
“Sebaik-baik
kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR Bukhari)
Aku
selalu berdoa, semoga wasilah dengan ilmu yang Allah titipkan padaku, membuatku
bisa memberikan manfaat untuk orang lain.
Tidak
memakan waktu yang lama, pertemuan kami disetiap kali nya tidak lebih dari satu
jam. Tepatnya, satu jam setengah.
Hari
itu, karena hari pertama, dan belum ada materi tahsin atau hafalanpun yang aku
berikan kepada mereka, aku diajak untuk keluar surau. Beberapa anak memegang tanganku, mengajaku bangkit
dari atas karpet.
“Teteh wang ameng yuk dipayun.”
“Oh, hayu
hayuuu..”
Kamipun
menghabiskan sore dengan permainan yang sempat kupraktekan saat mengisi di
agenda pesantren Ramdhan. Alhamdulillah, mereka senang. tawa mereka membuncah
saat salah seorang dari anak-anak ikhwan ada yang jatuh. Dan saat itu, aku tak
lagi berperan sebagai pemandu permainan mereka, aku hanya ingin menjadi
penikmat tawa mereka saja.
*Beberapa potret mereka yang sempat kuabadikan :)
![]() |
| Games sore |
![]() |
| Santri Santriwati Santri Asy-Syuro |







Tidak ada komentar:
Posting Komentar