Minggu, 09 Juni 2019

Malaikat kecil di sebuah Surau




Bismillahirrahmaanirraahiim…
Malam ini, tepat pukul sepuluh lewat satu menit, jemariku terseret kerinduan kepada sosok-sosok menggemaskan di sebuah surau disana. Kerinduan yang hadir karena jarak ini memaksa kami untuk berpisah; sedang hati tak ikut goyah.
Banyak yang ingin kusampaikan. Tapi sepuluh jari tanganku memegang kendali menuliskan apa yang hati pinta; tentang mereka.

Mataku tak hentinya menatap pose termanis mereka dilayar monitor. Sambil membayangkan suara-suara mereka yang seolah kembali menyambutku dengan hangatnya disetiap sore.
Sentuhan tangan mereka, hangatnya kening mereka yang selalu beradu dengan punggung tanganku, semuanya menari diatas kepalaku, sambil menyaksikan toots keyboard ini tertekan dan muncul kembali kepermukaan.

Aku masih ingat, pertama kali saat aku sampai di surau itu. Tempatnya jauh dari keramaian dunia anak-anak zaman sekarang. Menepi disebuah tempat dipinggir jalan, dibawah menara menjulang. Senyum mereka, timbul dari balik pintu satu persatu.
Aku yang pada saat itu ibarat orang asing yang sedang berupaya mengakrabkan diri dengan mereka, merasa sedikit malu saat senyuman itu satu dua terlempar menyambutku. Tangan mereka satu persatu terjulur menyambut tangan ini. Akupun bisa merasakan, sepertinya aku mulai bisa memasuki dunia mereka. Aku suka anak-anak, dan semoga merekapun menyukaiku.

Empat rakaat sudah kutunaikan atas Rabbku, kini giliranku menyapa mereka. Sekadar ingin tahu nama dari setiap pemilik kerudung berwajah manis yang malu-malu, atau mereka yang saat itu seolah terheran menatapku dibawah peci hitamnya. Aku suka tatapan mereka.
Kuawali lisan ini menyapa mereka dengan salam. Sambil memutarkan bola mataku mengitari lingkaran yang saat itu mengelilingiku.
“Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…”
Perasaanku mulai gugup, padahal keseharianku bersama anak-anak. Belum, ini belum mulai.
Balasan salam dari mereka membakar semangatku, sepertinya iya. Bukan saatnya aku untuk bergugup-gugupanan, membatasi lisan ini untuk menyambut hangat mereka. Akupun mulai memperkenalkan diri, yang sejujurnya.

Banyak pertanyaan yang terlontar dari mereka, hanya saja semua itu tertahan ditenggorokan mereka. Aku pernah merasakan, tidak mudah untuk bisa cepat akrab dengan orang baru. Kukeluarkan strategi baru untuk bisa memancing mereka untuk mengutarakannya, dengan beberapa jeruk.
Kukeluarkan jeruk-jeruk itu dari ranselku yang sengaja sudah kupersiapakan sebelum aku sampai disini, di surau ini. Enam buah jeruk manis. Rupanya, tak sia-sia kubawa mereka. Akhirnya, pandangan mereka teralihkan oleh jeruk-jeruk yang ada ditanganku. Saatnya aku beraksi. “Ada yang mau tanya ngga? Nanti Teteh kasih jeruk untuk yang berani bertanya.”
Berhasil. Beberapa pertanyaan mendarat dilisan-lisan mereka. Meskipun bukan pertanyaan yang sulit untuk kujawab tapi ini bermanfaat untuk melatih keberanian mereka. Kini, enam buah jeruk berganti pemilik.

Ada yang tidak boleh terlewatkan. Tugasku disana adalah membantu hafalan mereka, anak-anak manis usia PAUD sampai yang paling besar kelas tiga SD. Selain itu, akupun diamanahi untuk memperbaiki tahsin mereka. Menurutku ini tidak terlalu sulit, karena ini kemampuanku. Kesehariankupun dengan hal-hal seperti itu.

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Khayru kum man ta’allamal qur’an wa ‘allamahu.
“Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” 
(HR Bukhari)

Aku selalu berdoa, semoga wasilah dengan ilmu yang Allah titipkan padaku, membuatku bisa memberikan manfaat untuk orang lain.
Tidak memakan waktu yang lama, pertemuan kami disetiap kali nya tidak lebih dari satu jam. Tepatnya, satu jam setengah.
Hari itu, karena hari pertama, dan belum ada materi tahsin atau hafalanpun yang aku berikan kepada mereka, aku diajak untuk keluar surau. Beberapa  anak memegang tanganku, mengajaku bangkit dari atas karpet.
Teteh­ wang ameng yuk dipayun.”
“Oh, hayu hayuuu..”
Kamipun menghabiskan sore dengan permainan yang sempat kupraktekan saat mengisi di agenda pesantren Ramdhan. Alhamdulillah, mereka senang. tawa mereka membuncah saat salah seorang dari anak-anak ikhwan ada yang jatuh. Dan saat itu, aku tak lagi berperan sebagai pemandu permainan mereka, aku hanya ingin menjadi penikmat tawa mereka saja.

*Beberapa potret mereka yang sempat kuabadikan :)

Games sore

Santri Santriwati Santri Asy-Syuro
Loker santri akhwat
Sandal santri ikhwan dan akhwat

Surau dibawah menara
Pembelajaran ba'da maghrib

Wallahu A'lam Bisshawab...
Semoga bermanfaat :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku dan Masa Lalu

Bismillaahirrahmaanirrahiim... Setiap orang yang ada dimasa depan hadir bersama cerita yang sanggup mengantarkannya sampai titik tern...