Bismillah
Aku pernah mengagumi seseorang
Hingga akhirnya terbuai dengan janji tanpa
kepastian
Bukan; bukan pacaran.
Kami dekat tapi nyatanya saling berjauhan.
Hingga suatu hari
Aku tersadar akan sebuah impian
Sosok pujaan bukanlah dia yang datang tanpa
niat keseriusan
Apalagi hanya untuk reminder tahajjud disepertiga
malam.
Kau tahu, itu hanya kedok penuh kepalsuan.
Sampai menuju akhir cerita,
Kekagumanku kian meluruh tanpa aba-aba
Dia, bukan lagi menjadi “satu-satunya” yang
kupinta.
Oh iya, mohon maaf sebelumnya.
Memang namamu yang kusebut penuh iba.
Tapi tidak lagi, versi terbaikku berganti
menjadi versi terbaik-Nya.
Kufahami, hatikupun jelas dalam genggaman-Nya.
sehingga sampailah dipenghujung cerita,
Aku tak lagi menyebut nama siapapun dalam
sujud panjang yang penuh makna
Bukan takut diakhir kan kecewa, hanya saja rasanya
kian mudah berganti suka dan tidak.
Kumaknai “Satu-satunya” rasanya juga tidak.
Ada saat dimana hatiku meragu dan
mematahkan rasa yang satu.
Sudah kujelaskan, tak ada nama siapapun.
Yang terbaik menurut-Nya, cukup melibihi
apapun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar